Understand Me

Sebagai salah satu makhluk sosial, manusia memang pada dasarnya membutuhkan adanya hubungan sosial. Dewasa ini hubungan sosial menjadi salah satu komponen terberat di dalam hidup, well setidaknya itu katanya Ryan Bingham. Bahkan menurut beberapa sumber, pernikah yang sakinah bisa bernilai $105,000 per tahun, sedangkan perceraian bisa bernilai $150,000 lebih banyak setiap tahunnya. In short, the magnitude of this thing is so big that people always looking for happiness, looking for for someone that understand us.

Prolog

Jika semua emosi yang dimiliki oleh manusia adalah pelaku kriminal, kebahagiaan (happiness) adalah Al Capone. Sebenarnya ada analogi yang cukup sederhana untuk menjelaskan mengapa 7 miliyar manusia di muka bumi ini secara natural mencari kebahagiaan. Hal ini sama seperti motivasi seorang manusia bernafas. Manusia bernafas karena tubuh mereka memiliki kelebihan karbon dioksida. Kadar gas rumah kaca inilah yang membuat kita menarik nafas dan menghirup oksigen, jadi bukan sebaliknya. Begitu pula dengan kebahagiaan, yang dicari karena status default setiap manusia adalah pesismis/negatif dan tidak bahagia. No matter how much we can do, our emotion cycle-system will always turn into the default state, unhappy.

Understand Me, Please

Berbicara masalah kebahagiaan, tentu rasanya gak afdol kalau tidak berbicara tentang masalah hubungan. Entah itu hubungan sosial seperti pertemanan atau hubungan yang lebih kompleks, hubungan asmara. Sebagai salah satu pengamat hubungan amatiran, saya melihat salah satu faktor kunci hubungan itu lancar dan mencapai titik equilibrium kebahagiaan adalah ketika satu sama lainnya mengerti. Tapi, kenyataannya tidak sedikit dari manusia justru gagal dalam hal ini. Kompleksitas manusia terlalu sulit untuk dapat diterjemahkan secara gamblang. Terutama dalam hal perbedaan gender. Si cowok ngomong A, si cewek malah menginterpretasikan B. Lalu, siapakah yang dapat mengerti kita selain manusia itu sendiri?

Dear Computer

Ternyata dunia ini masih memiliki cukup peneliti yang kurang kerjaan untuk mencari substitusi manusia. Sebut saja Yang Lui, seorang ilmuan komputer dari University of Texas di Dallas, AS yang menggali lebih dalam proses emotional recognition dan speech modelling. Lui memperlajari beberapa elemen seperti pola intonasi suara, pitch level, dan penggunaan kata-kata. Elemen-elemen ini kemudia diasosiasikan dan dibandingkan dengan elemen yang terlihat di emosi dasar manusia, seperti marah, bahagia, atau terkejut. Si doi sih berharap pengembangan dari penelitian ini bisa diterapkan di banyak bidang termasuk dalam mendeteksi siswa yang jenuh belajar di dalam kelas. Sungguh bukan berita yang menyenangkan apabila teknologi ini jatuh di tangan dosen killer.

Touch Me

Seperti halnya Yang Lui, seorang peneliti di Disney Research Institute, Chris Harrison, mengembangkan teknologi capacitive fingerprinting. Ia menggunakan prinsip perbedaan aliran listrik dan frekuensi yang mengalir melalui jari manusia, dan membedakannya satu sama lain menggunkaan warna. Dengan kata lain, teknologi touchscreen yang dikembangkan kali ini secara jelas dapat membedakan antara jari saya dan Reza Rahardian. Untuk lebih jelasnya bisa dilihat pada video berikut.

Epilog

Kompleksitas hubungan sosial manusia mungkin dapat disejajarkan dalam sepuluh misteri terbesar di dunia. Kompleksitas yang selalu berkembang seiring berjalannya waktu, yang bahkan mungkin membuka peluang untuk terwujudnya pernikahan manusia dan komputer. So, will you marry me, computer?

Referensi

1. http://www.newscientist.com/blogs/onepercent/2012/10/a-touchscreen-that-knows-how-y.html
2. http://www.humintell.com/2010/05/your-next-computer-may-know-how-you-feel/
3. http://www.youtube.com/watch?v=6W2dsnhC18Q

Published by

Rama Renspandy

Professional procrastinator.

2 thoughts on “Understand Me”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.