Snails in Shopping Malls

Sebagai mahasiswa yang butuh label social beken dan up-to-date, mengunjungi mall adalah salah satu kegiatan saya yang paling sering saya lakukan disamping tidur, dan browsing. Mengunjungi mall sebenarnya gak jauh berbeda sama mengunjungi pasar yang berisikan manusia-mausia yang lebih beragam dan berdandan sedikit lebih rapi dari pengunjung pasar tradisional. Mall sendiri sudah menjadi hal yang sangat umum di kota besar di Indonesia, terlebih untuk Jakarta yang notabene merupakan kota dengan jumlah mall terbanyak di dunia. Seiring berkembangnya jaman, mall sedikit banyak berubagh fungsi tidak hanya sebagai shopping center belaka, namun juga tempat dimana kita bisa melihat kumpulan manusia berlomba untuk jalan lebih lambat dari siput yang di-handrem.

Ironi Sebuah Mall

Apabila tingkat kemakmuran suatu negara diukur dari pertumbuhan jumlah mall, Indonesia mungkin bakal sejajar dengan negara-negara di Eropa. Hal ini bukanlah sebuah kenyataan yang bisa dibanggakan seperti hal-hal konyol lainnya yang sering dilontarkan oleh GNFI. Salah satu contoh kecilnya, semenjak saya kuliah di kota pahlawan, saya selalu kesulitan untuk mencari tempat rekreasi yang oke apabila teman saya datang dari luar daerah. Ironisnya, tak jarang pilihan itu jatuh ke mall (lagi). Berita baiknya, saya jadi hapal posisi toko-toko besar yang ada di Tunjungan Plaza.

Walk On, Snails!

Fakta lain adalah jalan di mall ternyata bisa menjadi solusi alternatif untuk melatih kesabaran. Karena pada umumnya orang yang berjalan di mall bisa lupa arah, bak mobil tanpa GPS, dan pastinya di-handrem. Fenomena pejalan kaki lambat ini sudah banyak dibahas oleh orang-orang yang sedikit kesal karena mungkin pernah punya pengalaman buruk ketika kebelet pipis harus terhalangi oleh anak SMA and the gaaaankz, sedang kumpul gak penting di depan toilet Cuma buat ngebahas film apa yang bakal mereka tonton malam itu.

The Science Behind That

Permasalahan di atas punya nama yang lebih beken yang disebut pedestrian movement. Pedestrian movement pada dasarnya adalah sebuah ranah penelitian untuk memodelkan pergerakan manusia ketika sedang berjalan. Meski lebih popular diterapkan di stasiun kereta api atau bandara, nyatanya cukup banyak penelitian yang membahas hal ini di shopping center. Hal ini menjadi sangat menarik karena dalam mendesain sebuah ruang publik, seorang desainer harus mempertimbangkan aspek capacity threshold dari fasilitasnya. Mereka pastinya tidak mau menerima complain dari ABG anak mol yang sedang malam mingguan akibat penuh sesaknya kiblat malam minggu itu.

Selain kecepatan jalan yang cukup rendah, masyarakat sepertinya belum dapat memaksimalkan penggunaan escalator. Perhatikan saja, escalator yang sudah didesain double aisle (dua koridor) sering kali dirampas begitu saja haknya oleh pasangan yang hanya mau berdiri secara berjajar. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Paul Davis dan Goutam Dutta yang menganalisis mengenai kapasitas escalator di stasiun bawah tanah London, kapasitas secara teoritis (ideal) untuk escalator adalah 216 ppm (person per minute). Akan tetapi lebih lanjut mereka menjelaskan hal tersebut tidak mungkin bakal tercapai, dikarenakan :

1. Empty step phenomenon. Adalah kondisi dimana adanya slot kosong di tiap baris. Fenomena ini terjadi karena ketidakmampuan tiap orang untuk masuk ke escalator dengan kecepatan yang sama. Selain itu, abang Paul dan Goutam menjelaskan bahwa manusia pada dasarnya menghindari bentuk eclipse tubuh manusia sehingga cenderung untuk tidak berada pada row yang sama dengan orang asing. Masalah ini bisa jauh lebih parah apabila di escalator terdapat orang yang punya masalah dengan bau badan.

escalator

2. Kecenderungan seseorang untuk memberikan ruang kosong di depan. Teori ini menyababkan kapasitas escalator tidak terlalu dipengaruhi oleh besarnya volume traffic.

Teori di atas didukung pula dengan publikasi Schindler, salah satu produsen escalator yang menjelaskan bahwa kapasitas escalator tidak banyak bertambah meski ada peningkatan kecepatan escalator.

grafik_kapasitas

Epilog

Mengoptimalkan pergerakan manusia di mall tentunya tidaklah mudah. Diperlukan adanya kolaborasi antara perencanaan strategis fasilitas mall, dan memahami social behavior ketika berjalan. Lebih lanjut pengenai pedestrian movement akan dibahas di postingan selanjutnya.

Melalui tulisan ini, saya menghimbau para pembaca yang budiman untuk selalu aware ketika berjalan di mall. Janganlah terlalu cuek hingga menghambat orang lainnya. Karena bakal ada satu-dua orang di luar sana yang kurang beruntung untuk pergi ke mall bersama pasangannya (baca: jomblo), atau orang yang sedang kebelet pengen ke toilet. See you!

Referensi:

1. www.iimahd.ernet.in/publications/data/2002-11-01GoutamDutta.pdf
2. www.schindler.pt/schindler_planning_en-4.pdf

 

Published by

Rama Renspandy

Professional procrastinator.

2 thoughts on “Snails in Shopping Malls”

  1. is that true? tersentil juga baca ini haha I’m the one who always want to stand side by side, especially if it is with kids or the old ones, ensuring that they are okay when boarding the escalator.

    oh iya, untuk masalah kebelet pipis, IMO sih kenapa ga taruh aja toilet di lantai paling dasar kalau (mungkin) constraint-nya adalah jumlah toilet? pernah baca di mana gitu lupa, katanya pergerakan manusia “ke bawah” itu bisa lebih cepat dan lebih tidak capek, makanya kalau di stasiun / bandara sering banget kan eskalator yang menyala itu cuma yang arahnya ke atas, jadi kalau kebelet pipis tinggal ngacir aja ke bawah sambil misi-misi gitu hihi

    1. Hahaha. Thanks God someone finally realize it.
      Toilet mah harus ada tiap lantai. Selama posisinya sejajar vertically (in the ease of piping thingy).
      Kalo masalah turun tangga sih emang keliatannya lebih santai, but guess what, secara teoritis beban tubuh yang ditopang lutut ketika berjalan turun ternyata lebih berat dibandingkan ketika naik tangga. Mungkin sudah saatnya di mall dibangun “prosotan” aja. For the sake of our knees!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.