Should You Code?

Salah satu pertanyaan populer yang saya terima saat kuliah adalah, “belajar coding sejak kapan mas?”. Jujur, saya tidak pernah tau pasti kapan saya bisa dan benar-benar menjadwalkan untuk belajar coding. Sebagai mahasiswa yang cuma otak-atik conditional if dan looping secara abusive, tentunya heran dengan paradigma masyarakat awam yang masih mengagungkan dan heran sama makhluk yang bernama programmer. Kalau masyarakat bisa melalui pelajaran matematika atau belajar bahasa Inggris sederhana, mengapa mesti takut dengan coding yang tidak bukan hanyalah sebuah bahasa?

Bahasa

Saya masih ingat ketika pertama kali belajar bahasa Inggris sewaktu SD. Sebuah pelajaran yang tidak mudah mengingat metode belajar yang sangat tidak formal yakni belajar dari guru mengaji dan game Harvest Moon. Catatan penting untuk dapat belajar bahasa (atau pelajaran apapun) adalah bagaimana kita bisa terus menggunakannya, mengaplikasikannya, ekskursif, selama beberapa rentang waktu. Hal ini terbukti dari keseharian saya yang menghabiskan beratus jam terhipnotis oleh salah satu game populer Play Station One di jamannya. Obrolan dengan istri saya (di game tentunya), Karen, saya pelajari secara seksama. Alhasil meski tidak jago-jago amat, tes TOEFL sedari SMP cukup mudah saya lalui.

Setali tiga uang, belajar coding a.k.a bahasa pemrograman tidak jauh berbeda. Bahasa pemrograman in a nutshell adalah medium yang menghubungkan komunikasi manusia (user) dengan komputer (machine), karena keduanya pada dasarnya memiliki bahasa yang berbeda. Belajar syntax sangat mirip dengan mempelajari vocabularies. Oleh karena itu, coding bisa dilakukan oleh siapa saja tanpa bekal yang terlalu berat. Ed Rex menulis dengan sangat baik tentang fakta bahwa sebenarnya, setiap orang mampu menulis program. Hanya saja kita belum sadar dan masih terdistorsi akan paradigma programmer adalah pekerjaan alien.

Should You Code?

Pertanyaan selanjutnya, apakah saya harus coding? Terlepas dari kenyataan bahwa di era informasi saat ini, keahlian tersebut menjadi salah satu competitive advantage mumpuni yang bisa dimiliki seseorang, ada sisi lain dari bahasa pemrograman yang sering kali luput. Coding tidak melulu tentang menulis baris kode. Seperti halnya bahasa, kata-kata, struktur kalimat, grammar, yang kita ketahui ditopang oleh kemampuan berkomunikasi. Pelajaran bahasa memicu perkembangan tersebut. Seseorang dengan dasar kemampuan berkomunikasi yang baik pasti akan lebih mudah mempelajari bahasa. Di bahasa pemrograman hal tersebut terwujud dalam pola berpikir sistematis.

Coding membuat kita terbiasa membentuk algoritma dan solusi berpikir yang sistematis. Hal ini sangat vital untuk aneka ragam problem solving. Maka tidak heran jika UK merivisi kurikulum ICT nya yang kini mewajibkan siswa usia 5 tahun belajar coding. Di samping juga negara-negara barat seperti panik karena resource mereka di bidang ini semakin kecil dan tergerus dengan ahli IT impor dari negeri Bollywood.

Selain melatih kemampuan berpikir seseorang, coding ternyata bisa menghasilkan pula. Buktinya, seorang remaja di Inggris mampu menjual software buatannya kepada Yahoo! senilai 30 juta USD. Ini tentunya di luar cerita-cerita sukses pemilik start-up keren di internet atau miliuner terkenal seperti abang Zuckenberg. Fakta ini membuat saya berpikir, apabila orang tua ingin anaknya kaya mendadak, ada dua solusi, pertama merampok bank ala Ocean Eleven, atau berikan ia iOS SDK.

Epilog

Ada banyak pilihan bahasa pemrograman yang bisa dipelajari dengan berbagai tingkatan kesulitan. Apabila Anda tertarik untuk belajar, Codecademy adalah salah satu referensi menarik untuk belajar secara interaktif.

References :
1. http://www.techweekeurope.co.uk/news/national-curriculum-ict-education-computing-121214
2. https://medium.com/on-coding/862044601a5a
3. http://articles.latimes.com/2013/mar/26/business/la-fi-teen-millionaire-20130326
4. http://www.codecademy.com/learn
5. http://www.securelist.com/en/images/pictures/klblog/498.png

Image courtesy :
Wired UK

Published by

Rama Renspandy

Professional procrastinator.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.