Multitasking Brain

Pada pertemuan kuliah Kapita Selekta pekan lalu, dosen saya yang cukup kece, pak Imam memutar sebuah video yang menarik tentang multitasking pada manusia. Well, mungkin memang kata multitasking dewasa ini lebih banyak berasosiasi dengan operating system dan smartphone, tetapi multitasking menjadi salah satu kemampuan yang sangat dicari manusia. Ya, sesuai dengan definisinya, multitasking memiliki makna yakni proses mengerjakan segala sesuatu secara bersamaan atau paralel. Namun, di video tersebut terlihat jelas bahwa pesan yang disampaikan bahwa manusia tidaklah bisa melakukan multitasking. Apakah benar demikian?

Prolog

Otak manusia yang sangat dinamis, mampu menampung jutaan bahkan miliyaran informasi, ternyata harus menyerah dengan processor cupu semacam ARM di smartphone anda untuk mampu menjalankan 5 aplikasi sekaligus. Fakta ini tentunya cukup mengganggu saya sebagai pengagum organ tubuh yang paling banyak memakan energi satu ini. Tapi apa mau dikata, bukti yang jelas tertera di video yang disampaikan oleh pak Imam waktu itu, bahwa manusia tidak dapat fokus terhadap lebih dari satu hal secara bersamaan. Lalu mengapa hal ini bisa terjadi? Apakah otak kita memang harus menyerah dari sebuah processor handphone?

Dua Mode Otak

Membandingkan otak dengan processor memang terdengar agak sedikit naif. Otak manusia pada dasarnya memang hanya mampu mengolah informasi atau fokus pada satu hal saja, tetapi sesungguhnya ia sangat amat mampu untuk melakukan mutitasking. Bahkan, saat Anda membaca tulisan ini, mungkin ada lebih dari 10 proses yang sedang dikerjakan otak secara paralel. Otak manusia didesain dengan dua jenis mode, yakni otak sadar dan otak tak sadar. Nah, kegiatan otak yang berjalan di mode otak tak sadar inilah yang sering kali melakukan berbagai aktivitas paralel tersebut, seperti mengatur gerakan otot, membaca sensor dari panca indera, mengontrol nafas, dan lainnya. Makanya, jangan pernah percaya slogan yang bilang kita hanya memanfaatkan 10% otak kita. Bukti dari scan MRI membuktikan banyak aktivitas di berbagai area otak dalam satu waktu bersamaan. Sementara itu, otak sadar yang seperti kita ketahui adalah status otak yang aktif saat ini (kegiatan otak sadar Anda saat ini adalah membaca tulisan ini kata demi kata). Kegiatan dalam mode inilah yang hanya mampu diproses otak satu-per-satu.

Multitasking

Penelitian tentang multitasking yang saya sukai salah satunya adalah yang berkaitan dengan gender. Penelitian ini dibahas secara menarik di buku “Why Men Don’t Listen and Women Can’t Read Maps” yang menyatakan bahwa wanita cenderung memiliki kemampuan multitasking yang lebih tinggi dibandingkan dengan laki-laki. Mengapa demikian? Hal ini ternyata disebabkan karena bentukan dari kegiatan alamiah manusia pada jaman purba dulu, dimana laki-laki berburu binatang untuk keluarga dan wanita stay at home untuk mengurusi keluarga. Laki-laki sebagai pencari makanan yang secara alamiah mengemban tugas untuk berburu, tidak dibekali kemampuan multitasking yang cukup. Kompensasi atas hal itu, laki-laki diberikan kemampuan fokus yang jauh lebih hebat dibandingkan wanita. Tentunya ini lebih berguna jika diterapkan dalam berburu rusa yang kadang memerlukan konsentrasi lebih. Sebaliknya wanita yang memiliki tugas mengurus rumah, dibekali kemampuan multitasking yang, yaaaah.. agak lumayan lah. Mereka memerlukan sebuah skill agar dapat memasak selagi menggendong anak sambil bergosip ria dengan tetangga sebelah.

Epilog

Kembali ke pertanyaan semula, apa manusia mampu multitasking? Untuk kegiatan otak sadar, jelas saya harus setuju untuk mengatakan tidak. Tetapi apabila aktivitas otak tak sadar dihitung, jangan salah, processor A6 yang diembatkan pada Apple iPhone 5 saja sudah pasti kalah. Hence, be focus guys!

Referensi

1. Human multitasking : http://en.wikipedia.org/wiki/Human_multitasking
2. Think you’re multitasking? : http://www.npr.org/templates/story/story.php?storyId=95256794

Published by

Rama Renspandy

Professional procrastinator.

2 thoughts on “Multitasking Brain”

  1. Good and thorough researched and written.

    Tentu, ketika otak kita melakukan suatu pekerjaan, maka simpul-simpul pembentuk otak akan bekerja secara bersamaan dalam rangka keberhasilan pekerjaan tersebut. Ada yang memberi sinyal ke saraf jantung agar mengalirkan darah ke bagian tertentu lebih banyak, ada juga yang membuat nafas kita lebih kenceng, dan seterusnya. Semua simpul otak mengerjakan bagian masing-masing, tapi untuk one common goal.

    BTW, saya sepakat dengan yang anda sebutkan di Epilog tersebut.

    Central message dari “Multitasking” nya john medina adalah “Keep focus”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.