Balada Perniagaan Martabak

Ada beberapa hal di dunia ini yang terdengar cukup sederhana, namun jawaban pastinya cukup sukar untuk dicari. Salah satunya adalah, mengapa tukang martabak hanya muncul pada malam hari? Bahakan upaya mencari ilham di mesin buatan Larry and Sergey pun lebih banyak menghasilkan opini dan teori dari berbagai forum. Tulisan ini akan menjadi menggarami air laut, dengan sedikit sentuhan sok tau.

the cult of economic

Singkatnya, gak ada jawaban yang mutlak. Ada beberapa faktor yang menyebabkan suatu fenomena ini. Di dalam buku The Economic Naturalist, Robert H. Frank menjelaskan pada dasarnya segala sesuatu yang ada di dunia adalah berdasarkan insentif ekonomis. Dalam bahasa gamblang—manusia selalu berusaha mencari titik dimana mereka bisa mendapatkan gap profit sebesar mungkin. Apart from any social activities, selama itu berduit—dan gede dari segi margin, we will do it for sure.

Begitu pula dengan pedagang martabak atau semua perniagaan pada umumnya. Jam kerja selalu menghasilkan biaya, sedangkat profit adalah sesuatu variable volatile yang sangat tidak pasti. Ketika demand amatlah minim untuk bisa menutupi biaya tetap yang muncul, secara natural—pasar tidak akan bisa muncul.

Dalam grafik sederhana, fenomena itu dapat dijelaskan sebagai berikut.

 photo graph_martabak.jpg
Contoh grafik antara permintaan dan biaya penjualan martabak per jamnya.
cost & demand

Pada umumnya, pola antara grafik biaya dan permintaan berbeda. Biaya yang timbul di jam kerja normal (antara pukul 8 hinggal pukul 17), bisa ditekan karena tidaklah sulit untuk memperkerjakan seseorang di jam ini. Biaya itu mungkin naik ketika kita memaksa mereka mengkonsumsi kafein lebih banyak, dan mengubah jam tidurnya untuk bekerja di dini hari.

 photo IMG_20141021_170931897.jpg
Menunggu abang martabak.

Sementara permintaan, tentu saja variatif. Masyarakat sudah terdoktrin untuk memilih bubur ayam menjadi menu sarapan favorit, atau nasi padang untuk makan siang. Ini bukan berarti tidak ada demand dari orang yang cukup nyentrik untuk makan martabak untuk sarapan atau ibu-ibu ngidam terang bulan di siang hari.

epilog

Selama suatu bisnis dapan margin yang cukup besar di prime time, dan mampu subsidi silang untuk beroperasi di siang hari, para suami masih dapat bernafas lega untuk membelikan martabak demi istri tercinta di siang hari. So, what do you think guys? Kira-kira kenapa jarang ada penjual martabak di siang hari?

PS: By the way, kalo penasaran dengan martabak dan tepungnya, bisa cek blognya bang Dody ini.

Reference: The Economic Naturalist: In Search of Explanations for Everyday Enigmas

Image credit: Foodpanda

Published by

Rama Renspandy

Professional procrastinator.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.